LAMONGAN, BrataNews.com — Persoalan pasokan air bersih memicu keresahan warga Perumahan Tambora, Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Puluhan warga, mayoritas perempuan, menggelar aksi protes pada Sabtu (26/9/2026) untuk meminta kepastian mengenai kelancaran distribusi air ke rumah mereka.
Aksi tersebut ditandai dengan warga membawa sejumlah perlengkapan rumah tangga, seperti timba, gayung, dan peralatan mandi. Perlengkapan itu menjadi simbol kesulitan warga memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Koordinator aksi, Nusa Indah, mengatakan persoalan distribusi air sebenarnya telah memasuki tahap uji coba selama sekitar dua bulan. Namun, menurut dia, aliran air yang diterima warga belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.
“Kami meminta yang pertama kepada pengembang untuk mencari solusi ke PDAM. Masa percobaan sudah berjalan dua bulan, tetapi air belum bisa dirasakan,” kata Nusa Indah.
Selain mempertanyakan kontinuitas pasokan, warga juga meminta penjelasan mengenai biaya pemasangan sambungan rumah yang sebelumnya telah mereka bayarkan melalui pihak pengembang.
Menurut Nusa, keterbukaan mengenai aliran dana tersebut penting agar warga memperoleh informasi yang jelas mengenai proses penyediaan layanan air.
“Di sini kami juga meminta transparansi anggaran, dari pihak perumahan maupun PDAM. Uang yang kita setor larinya ke mana,” ujarnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Perumahan Tambora, H Kadimun, menyatakan pihak pengembang menerima aspirasi warga dan telah berkoordinasi dengan PDAM Lamongan.
Menurut Kadimun, koordinasi dilakukan untuk mencari solusi terhadap kendala distribusi sehingga pelayanan air dapat berjalan sesuai kebutuhan penghuni perumahan.
“Intinya kami sudah melakukan koordinasi dengan PDAM guna memastikan kelancaran distribusi air seperti yang diharapkan warga,” ungkapnya.
Kadimun menambahkan, pengembang juga berharap persoalan pasokan air segera terselesaikan sehingga kebutuhan dasar warga di Perumahan Tambora dapat terpenuhi.
Di sisi lain, Direktur Utama PDAM Lamongan, Muhammad Syahril Majidi, menjelaskan bahwa belum optimalnya aliran air dipengaruhi sejumlah kondisi teknis.
Salah satunya adalah faktor elevasi wilayah yang berdampak terhadap tekanan air. Selain itu, terdapat gangguan pada kabel induk booster milik PT Air Bersih (PTAB) Jawa Timur di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, yang turut memengaruhi tekanan suplai air.
Syahril menjelaskan, pelayanan air di kawasan Tambora hingga kini masih berada dalam tahap uji coba. Menurut dia, masa trial umumnya berlangsung sekitar tiga bulan untuk mengidentifikasi berbagai kendala teknis sebelum layanan diterapkan secara penuh.
“Di Tambora itu belum kita rekeningkan, masih masa percobaan yang biasanya berlaku hingga tiga bulan. Masa percobaan ini dilakukan untuk mengetahui apa saja kekurangan saat pendistribusian,” jelas Syahril.
Ia mengatakan karakteristik wilayah yang berbeda membuat pola distribusi dan penanganan teknis tidak dapat diterapkan secara seragam.
Sebagai langkah penanganan, PDAM Lamongan menyiapkan rekayasa sistem distribusi untuk meningkatkan tekanan sekaligus memperlancar aliran menuju Perumahan Tambora.
PDAM juga merencanakan pembangunan tandon penampungan air baru dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kontinuitas suplai air bagi warga.
Dengan adanya langkah teknis tersebut, persoalan yang kini menjadi perhatian warga diharapkan dapat ditangani sebelum layanan air memasuki tahap operasional secara penuh. Sementara itu, permintaan warga terkait transparansi biaya sambungan rumah menjadi bagian lain yang masih perlu memperoleh penjelasan secara terbuka dari pihak-pihak terkait. (Red)



